City never sleep

Kaki ini melangkah ke mana-mana, tanpa menyadari suatu cerita besar di tempat dimana kaki ini merebah. 

Formal sekali … hehe

Intinya, suatu senja saya berniat untuk mengabadikan matahari tenggelam di langit Jakarta dari atap tempat kos saya. Melalui kamera yang terpasang di tripod, saya fokus mengabadikan sang matahari, dari moment matahari senja masih bersinar keemasan, hingga lama-kelamaan dia hilang di peraduan malam.

Saya tidak terlalu menyadari kehadiran anak kecil yang terus-terusan memperhatikan aktivitas saya. Anak kecil yang adalah anak penjaga kos. Dan sejak matahari (yang dari tadi menjadi fokus perhatian saya) benar-benar menghilang, saya baru mulai melihat lingkungan sekitar saya. Saya melihat sekitar saya.

Saya melihat atap kos-kos an ini. Saya melihat corat-coret tulisan di dinding pembatas. Saya melihat barang-barang bekas berserakan. Dan ternyata… semua bercerita. 

 

Pernahkah kamu melihat bintang di hitam langit malam Jakarta? Hmmm… tidak pernah ya? Bahkan kalau kamu tinggal di Jakarta, kamu akan rela berpergian jauh keluar kota untuk sekedar melihat bintang, kamu bilang itu indah, kamu bilang itu romantis.

Apakah benar di Jakarta tidak ada bintang? Atau mungkin sudah hilang keyakinan mu akan adanya bintang di langit Jakarta. Hilang pula keyakinanmu untuk menemukan keindahan dan romantisme langit malam Jakarta.

Yeah… Jakarta tidak pernah tidur. City never sleep. Jadi, buat apa ada kasur? hahaha…

Bahkan untuk seorang anak kecil, the city is still never sleep for you, dear.

Kota ini keras, Nak. Betulkah? 

Coba kita tanya ke sang Ibu. Selama ini, pernahkah dia menemanimu menikmati indahnya matahari terbenam dari atap kos ini? Pernahkah dia mengajakmu pergi ke gedung-gedung yang cahaya terang nya selalu kau lihat saat malam dari atap rumah kos ini? Atau pernahkah dia mengajakmu pergi ke Monas, yang kemilau pucuk emasnya dengan jelas kau lihat dari atap kos ini?

" Maaf nak, Ibu juga tidak tidur malam ini" 

"SETAN KOTA TUA"

Pulang

Pengelana…. mereka berpergian, traveling atau menjelajah kemanapun dia mau.

Mereka mau mencari pengalaman.

Mereka mau menemukan sesuatu hal yang baru.

Mereka mau mencari kebahagiaan. 

atau mereka mau lari dari suatu hal.

Yang jadi pertanyaan, apa sebenarnya hal yang paling membahagiakan bagi mereka?

Kalau saya, yang pengelana amatiran … adalah saat pulang.

Saat pulang dari suatu perjalanan.

Saat bisa kembali untuk bertemu, berbagi dan bercerita,

dengan …

yang terindah.

Gunung Salak Endah, Bogor - when misty meet beauty

Bulan January 2013 dihiasi oleh dua tanggal merah, yaitu tanggal 1 January untuk new year of 2013 dan 24 January yang bertepatan dengan Prophet Muhammad SAW birthday (Maulud Nabi Muhammad SAW). 

Tanggal 24 January kebetulan jatuh di hari kamis, jadi…. pasti banyak yang lempeng liburan karena ambil cuti 1 hari, yaitu hari jumat yang kejepit. Berbahagialah bagi mereka yang menikmati long…long…long… weekend.

Saya mungkin termasuk dari segelintir orang yang tetep harus masuk di hari kejepit itu (baca: dah mepet akhir bulan dan target belum achieve…*hiks*). 

Libur satu hari di hari kamis itupun sudah lumayan…hmmm…lumayaaannn banget buat ngurangin penat. Harus dinikmati sebaik-baiknya, walaupun beberapa hari sebelumnya sempet libur 2 hari kerja karena Jakarta darurat banjir, dan kebetulan kantor saya termasuk yang lagi heboh di TV karena kasus basement yang kelelep air dan memakan nyawa (ok, ngaku, saya di cabang yang berbeda ). Intinya, libur 2 hari karena banjir gak ngurangin penat, malah nambahin penat.

Back to topic…

Libur satu hari, tanggal 24 January 2013, saya dan dua orang teman memutuskan untuk melakukan one day trip ke tempat yang gak terlalu jauh dari Jakarta, yaitu Bogor, tepatnya ke daerah gunung Salak Endah. Oiya, dalam perjalanan ini kita juga ditemani dua cewek kembar (tetapi tidak terlalu identik) yang rencananya akan menjadi model foto nanti di beberapa lokasi tujuan kita. 

Ini akan jadi kelima kali nya buat saya ke lokasi tersebut, tetapi buat teman saya yang lainnya akan menjadi yang pertama kalinya.

Kita meluncur dari Jakarta jam 4 pagi dengan tujuan pertama adalah Curug Cigamea. Kenapa kita sampai sebegitu niatnya berangkat subuh-subuh dari Jakarta adalah dengan harapan kalau kita datang pagi-pagi pasti lokasi air terjun masih sepi pengunjung, jadi kita lebih leluasa untuk foto landscape dan foto model juga.

Dengan perjalanan yang cukup santai dari Jakarta, kita akhirnya sampai  di area Curug Cigamea sekitar jam 6 pagi.

… dan kaki ini pun melangkah untuk menikmati salah satu objek wisata favorit di area Taman Nasional Gunung Halimun Salak atau yang biasa dikenal dengan area Gunung Salak Endah ini.

Lokasi masih sepi, pengunjung belu ada sama sekali dan para penjual di warung-warung juga baru satu per satu berdatangan dan akan membuka warungnya.

Kita menghabiskan waktu sekitar 5 jam di lokasi Curug Cigamea ini, yang didominasi oleh kegiatan motoin landscape, motoin model, menikmati menu warung yang didominasi mie instan dan kopi, menikmati jagung bakar dan……. NUNGGU HUJAN BERHENTI.

Yupsss…. ini dah kelima kalinya saya kesini dan selalu …. KEHUJANAN. wkwkwkwk….. Salut dah sama predikat Bogor sebagai Kota Hujan, kredibilitasnya gak akan pernah luntur.

Btw, berikut beberapa foto jepretan di lokasi Curug Cigamea yang mempunyai dua air terjun dengan tipe berbeda, dan lokasinya bersebelahan. Yang pertama air terjun yang terdapat kolam dibawah pancurannya, mengalir melekuk sesuai aliran sungai. Yang kedua tipe air terjun berdinding batu besar, jatuhnya bergemericik kencang di area berbatu.

#1 :

image

#2 :

image

#3:

 image

#4 :

image

#5:

image

#6:

image

#7 : 

image 

Overall, kita cukup puas dengan lokasi pertama ini. Niat kita ke curug-curug lainnya yang ada di area Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini kayaknya kita cancel karena faktor waktu, padahal saat berangkat kita ada rencana juga untuk mampir ke Curug Pangeran. Kita putuskan untuk foto-foto di lokasi hutan pinus, yang terletak di sepanjang jalan setelah kita melewati gerbang taman nasional Gunung Halimun Salak ini.

Banyak spot yang menarik di area hutan pinus ini. Kita waktu itu hanya memutuskan cari spot hutan pinus yang tanahnya landai dan ada area yang cukup untuk parkir mobil.

Berikut beberapa foto kita di hutan pinus saat itu

#1:

image

#2:

image

#3:

image 

#4: 

image

# 5:

image

#6:

image

#7:

image

Sekitar jam 2 siang kita meninggalkan lokasi ini. Makan siang sebentar di salah satu saung yang ada di dekat pertigaan Highland Park, mampir sebentar di Pura Agung Gunung Salak, dan kemudian balik ke Jakarta.

One day trip yang cukup berkualitas dan menyenangkan. Terima kasih buat teman-teman yang mau menemani, dan si Kembar Nova-Novi yang mau kita susah-susahin.hehehe… 

Orang-orang yang saya temui saat melangkahkan kaki di danau kawah Papandayan, dec 2012.

Saya cukup salut dengan gaya jalan2 turis pada umumnya. Barang bawaan mereka gak banyak, tujuan cukup terfokus, dan hanya bermodalkan kamera pocket untuk mengabadikan pengalaman mereka.

Edelweiss …

one of the reason kenapa orang mau capek-capek mendaki gunung…

Bisa menaruh kepala di sela-sela lembut bunga dan dedaunannya, sembari menghirup aroma segarnya (walau tidak harum), merupakan suatu kenikmatan tersendiri yang layak untuk didapatkan dengan pengorbanan tenaga untuk mencapai lokasinya.

Kaka’ Semangat !

PLTU Palabuhanratu dari kejauhan. long exposure in B/W